Pecel Blitar

20150115_115940

Pecel Blitar @kiftihislami

Saya lupa nama warung makannya. Lokasiny tepat di depan makam dan museum Bung Karno di Blitar. Solo traveler pertama selalu di Jawa Timur πŸ˜€ Ada apa dengan jawa timur ?
*krik krik

Gambarnya agak maksa untuk tetap eksis difoto. Dicampur kondisi saat itu lapar pakai hujan. Buehh tambah syahdu kelezatan pecel Blitarnya πŸ˜€

Menuju pangkalan ojek ke makam Bung Karno biayanya kurang lebih IDR 25.000 cuma saat itu saya berhasil menawar hanya IDR 15.000 jadi alhamdulillah dapat potongan harga
*senyum suwemringah πŸ˜€ πŸ˜€

Ohya saat itu perjalanan dari Kediri. Dari Kediri naik bus jurusan Blitar. Kurang lebih 1 jam perjalanan menuju Blitar. Selama di perjalanan banyak bercerita dengan kondekturnya seputar daerah Blitar. Semacam wisata hutan menyusuri jalan demi jalan yang penuh dengan kerindangan pohon hijau dan beberapa bangunan rumah yang masih kuno. Lalu lintas juga tidak begitu padat.

Sesekali kumelihat rumah adat jawa dan beberapa tumbuhan buah rambutan, jambu, mangga yang berebutan tumbuh hingga ke pinggir jalan. Asri dan adem di mata πŸ™‚

Namanya Zainal

p1320353

@kiftihislami

Namanya Zainal Muttaqin. Biasa dipanggil Zainal, tapi kalau saya memanggilnya dengan Zein. Orangnya ramah dan penuh sopan santun. Orangnya jago banget acting. Dia bergabung dalam teater 3, (tiga koma.red). Doi yang satu ini sekarang menjadi banker sama kayak Dian. Baiklah nanti di page selanjutnya saya mencoba menceritakan orang-orang yang ada di laptop saya πŸ˜€
*tsahhh

Maksimalkan Potensi dan Tetap Berpikiran Positif !!

p1320565

@kiftihislami

Di sore yang berkabut ini ijinkan saya menulis hingga memuisikan kisah yang lama ini. Banyak hutang untuk berpuisi selama dekade 2011-2012-2013. Buanyakkk

Urut dari kiri ke kanan ada Caca, Dian, Kifti, Mbak Ulfi, dan Puji. Aww ! Rindu maksimal !

Sekarang mereka berkiprah sesuai bidang yang mereka pilih. Secara profesional Caca bekerja di salah satu rumah sakir di kudus. Dian menjadi sebuah banker salah satu Bank BUMN. Mbak Ulfi tidak ada kabar. Puji menjadi seorang tenaga pendidik Bahasa Inggris di kotanya. Ahh lama tidak berjumpa dengan mereka. Biasanya jam segini kita nongkrong sambil mengerjakan tugas kuliah di depan basecamp. Sembari nyemil camilan hasil sodakohan bersama. Atau jam segini kita ngopi bareng di depan kampus punya mas Mul. πŸ˜€

Saat itu sudah punya kekasih belum ya ? Tak ingat – ingat dulu *berpikir keras

Saat itu masih dekat dengan seseorang si. *ecieh yang pernah dekat πŸ˜€

Itu di ambil setelah persiapan panggung lomba English Song Festival Pendidikan 2012 Bem Fkip Umk. Hari itu masih dekil tapi gemuk banget. Saat itu berat badan masih 50 kg. πŸ˜€ . Joyo banget, rek !

Oh ya ngomong-ngomong dulu sempat ada tragedi. Enggak tragedi si cuman cobaan saat itu untuk kami lumayan besar. Saat itu kami tidak punya tempat untuk menyelenggarakan kegiatan tahunan kami. Masalah teknis lebih tepatnya. Mau diomong tidak enak. Ya yang sudah terjadi ya sudah. Intinya kita cukup tahu saja.

Hari itu pesan yang bisa diambil adalah …

“Maksimalkan apa yang menjadi kelebihan untuk menutupi kekurangan dan melakukan apa yang bisa kita lakukan saat itu juga ! “

Semoga bermanfaat πŸ™‚

Studi Banding di UKSW

dscn3025

@kiftihislami

Aaakkk tetiba baper maksimal majang foto ini. Saya rindu kebersamaan, kerja keras bareng, susah bareng, mengerjakan tugas kuliah bareng, online bareng,Β  ngerayu ibu warteg agar dapat gorengan banyak, dan masih banyak lagi. Mereka unik. Mereka mandiri ! Sedikit cerita saat itu pertama kalinya yang mengemban amanat di organisasi dari pemotongan generasi. Sama sekali tidak punya pengalaman organisasi sebelumnya. Di badan eksektutif tidak sama dengan Osis. Harus selalu waspada terhadap segala macam praktik politik praktis. Kadang ini yang membuat pikiranΒ  tidak bisa berhenti. Ini diambil sekitar tahun 2012 bulan Januari. Tanggalnya lupa πŸ˜€

Sekolah Alam Salatiga

bluebelly-jeyexxx5876

candid by Dian

 

Selamat sore. Hari itu kami di Salatiga. Desember nanti genap 4 tahun yang lalu. Kota yang awet dinginnya. Dinginnya kayak hatiku *tsahhh :D. Kalau tidak salah itu di depan musholanya Pak Bahrudin, pemilik Sekolah Alam di Salatiga daerah Kalibening. Sekitar 30 menit atau 20 menitan dari kampus Universitas Kristen Satya Wacana. Sempat nyasar waktu ke sana. Padahal pas survei 2 minggu sebelumnya sudah pernah ke sana. Ya maklum lah radar tentang arah tidak sekuat nangkap kalau ditraktir makan gratis. Banyak belajar di sekolah alam ini. Mulai kurikulum, mata pelajaran, pendidikan karakter, dan lain sebagainya. Kurikulum yang diterapkan di sini beda degan sekolah formal. Dasar sekolahnya mengacu pada pengembangan bakat, minat, dan menyatu dengan alam. Walau jauh dari frame formal tapi beberapa anak didik di sini sudah menerbitkan buah karyanya lho. Mulai seni, literasi, dan hasil karya yang lainnya. Tidak kalah deh dengan prestasi anak-anak sekolah formal. Bahkan sudah ada yang rekaman lagu πŸ™‚ , sssttt nerbitin buku juga lhoo. Saya kalah dengan anak-anak yang ‘merdeka’ namun masih tetap bisa membuat karya. *emotikon iri πŸ˜€

Oh iya apa kabar ya dengan teman-teman yang foto di atas itu ? Kapan-kapan saya ceritakan deh satu persatu tentang mereka. πŸ˜€

Kembali soal sekolah alam tadi. Lelah, letih, belum mandi, bau – bau sangrai ala keringat wangi, dan pengen tepar waktu di sana. Seperti jarum jam yang tidak pernah berhenti. Olala kok malah jadi curhat ini. Saya lupa dulu ada berapa murid di sana. Saat itu kami diajak mengunjungi kamar asrama, studio musik, perpustakaan, hall, dan beberapa karikatur yang unik dan menyindir pemerintah saat itu. Kritis ya. Anak-anak seusia mereka sudah berani berpendapat dan menilai tentang pemerintah saat itu. Beberapa buku adalah koleksi menulis mereka. Kaos yang dipajang dan dijual di dekat perpustakaan juga hasil sablon tangan mereka sendiri. πŸ˜€ πŸ˜€

Jam 11.00 malam saya menyerah danΒ  tidak kuat lagi memendam hasrat ngantuk. Jadi saya putuskan masuk ke kamar yang sebelumnya ditawari oleh Pak Bahrudin. Teman-teman masih diskusi di perpustakaan bersama beliau hingga pukul 02.00 pagi. Alhamdulillah saya bisa istirahat. Tapi walau bisa merem tetap saja dinginnya Salatiga mengalahkan ngantuk. Saking dinginnya jadi tidak bisa tidur :D. Hanya mlungker saja. πŸ˜€ πŸ˜€
*padahal sudah pakai pakaian lengkap ala musim salju di eropa πŸ˜€

DSCN3050.JPG

katanya ini pukul 01.30 am

Keesokan harinya saya bertugas mengambil makanan di belakang rumahnya Pak Bahrudin. Bhhh dinginnya. Sampai mandi harus gigil pakai 300 ketukan gigi *tsahhh. Harga nasi lodehnya tidak terlalu mahal kok. Hampir sama dengan di kudus. Nasi lodeh plus sayur saat itu 3.500, plus teh anget jadi 5.000. Tahukah anda jika nasi lodeh plus tahu adalah menu favorit mahasiswa ? Tanya kenapa ? Yang pertama harganya murah dan yang kedua nasinya dapat banyak :D.Β  Tidak hanya di kudus tapi juga di salatiga. Mungkin bisa jadi di beberapa daerah juga sama. Sepertinya asumsi ini ada benarnya karena tahun 2013 lodeh di Kediri seharga 3.500 πŸ˜€
Hidup lodeh !

Selepas dari Kalibening kami mampir di IAIN Salatiga. Saat itu dengan Dema UIN Salatiga. Waw speechless ! Ternyata kami di sambut ramai sekali. Serasa artis. *tsahhh kibas rambut

Acara selanjutnya diskusi ala-ala aktivis gitu. Melingkar, berkenalan, mengisi daftar hadir, guyon bareng, dan berdiskusi permasalahan seputar bangsa dan negara. Tak lupa acara pertama adalah menyanyikan lagu Indonesia raya. πŸ˜€

Friendship is Everywhere

dscn3158

– Gedung Songo Temple 2011 – @kiftihislami

In overview friendship is an unification emotionally. Perhaps most of people will disagree there is a pure friendship in this world. But personally i stand for the beauty of friendship’s goal. It has many more advantages than disadvantages. Friendship is able to be created and found everywhere we go πŸ˜€

 

Thomas and Uber Team

dsc01593

Friends @kiftihislami

They are my another friend. Badminton lovers Kudus with Pia Zebadiah, one female Indonesian athlete. It was taken in 2014 before Thomas and Uber Cup held. Nevertheless we were happy to meet Indonesia’s team. There were Sony,Β  Simon , Jo, hendra, Bellatrix, Adriyanti Firdasari, Lindaweni Fanetri, Graysia Polli, Maheswari and mbak Yuni Kartika (the alumnae).

Sony Dwi Kuncoro was the single man player. He was with Jo and Simon as the representative in Thomas Cup.

dsc01603

with Indonesian hero, Sony Dwi Kuncoro – @kiftihislami

Second single man player was Jo. he was the youngest. He was under 20 years old at that time (specifically i don’t know how old he is). He had sharpen smash and nice drop-shot.

dsc01596

With Jo – @kiftihislami

We were there started from 9 am. They exercised and did warming up.

dsc01592

Indonesian team – @kiftihislami

Incidentally there was a small surprise, mbak Yuni Kartika and Bellatrix gave a happy birthday tart to one of them. She had birthday πŸ˜€

dsc01608

@kiftihislami