Potret Pertama

Ketika sebuah cangkang kerang di tepian pantai
Segala upaya ombak terus menggerus kerasnya kulit
Maka dengan segap sang cangkang bangkit dari tidurnya
Akan tetapi mustahil saja, tak satupun senyawa hidup berputar di sekitar badan
Akupun tersenyum simpul

Benar saja…
Sepi, damai, dan penuh syahdu
Aku menikmati suasana hati ketika itu
Akupun berimajinasi jika aku terus bisa ditinggal disana

Aku berpose penuh ekpresi
Ketika kamera siap menangkap gambarku
Dengan latar belakang pasir putih dan siannya laut…

Badanku tidur di atas pasir permata
Gayaku sungguh penuh makna
Bagai pujangga yang sedang jatuh cinta
Kuputar badan , tangan, dan lesung pipiku

Aku terus berjalan di atas permata dengan gemulai
Sesekali ombak menahan kepergianku
Akan tetapi aku harus pergi
Hidupku ditunggu oleh orang di seberang sana

Selamat tinggal pulau cemara kecil
Begitu hati ini terpikat melihat pesonamu
Sungguh Maha Kaya yang telah menciptakanmu

Karimunjawa, 2011

Advertisements

Pesona di balik Wanita Desa

Sang surya perlahan meninggalkan pedarannya. Posisi 120 derajat dari pedar timur. Sore ini desiran angin bersepoi lembut menyapa seluruh kawasan desa. Rumput-rumput tak hanya bergoyang , namun telah mengebeat ria bersama gemerincing lonceng dan naungan suara sapi. Terasa semilir dan kesejukan angin membekukan butiran keringat yang menempel di kulit walau hanya sesaat.

Hampir dua puluh menit aku jongkok di ujung tanjakan ini. Kebetulan rumput-rumputnya segar dan masih lebat. Sesekali aku berjumpa dengan tetanggaku yang hendak pergi ke sendang untuk mandi dan mengambil air. Demikian juga mereka yang telah rampung mandi, dengan menggendong jun di pinggang. Anak-anak kecilpun terkadang menunggangi punggungku. Isarat mereka ingin mengajakku untuk bermain. Bentakan dan jeweran bundanya menghentikan langkah jailnya.

“Lis, awakmu kelas pira?” Suara itu memecahkan lamunanku.
“E…Mas Umar iku mau. Aku kelas 2 smp mas. Ana apa?” Sahutku.
“Ora mung takon kok”
“O…Yow wis yo mas,aku riyen. Aku wis wiwit mau ning kene. Iki suketku wis akih. Arep ngewangi ibu gawe pesenan. Ayooo monggo… ”
“Ya, ngati-ati”

Sampai di rumah aku letakkan karung di depan kandang kambing dan sapi. Tugas yang memberi makan ternak adalah Rasyid,adikku. Akupun mandi dan langsung membantu ibu. Kebetulan tetangga sedang punya hajat. Ibu disamping bekerja di kecamatan juga menambah penghasilan dengan menerima cateringan. Yaah setahu saya ibu hanya digaji satu petak sawah selama periode pengabdian. Karena aku akan memasuki dunia pendidikan yang lebih tinggi, SMA ,perguruan tinggi, maka ibu memutuskan untuk membantu bapak. Bapak hanya petani. Gajianpun hanya musim panen saja. Biasanya ibu bikin kue basah, kue kering, nasi bungkus, dll. Setiap hari aku membawa gorengan dari rumah untuk aku setorkan di SD dekat SMPku.

Kali ini pesanan dari tetangga adalah putu ayu. Ibu sedang mengocok adonan dan saya mengolesi minyak di cetakan putu ayu. Setelah mengolesi minyak aku menaburkan sembari menaruh parutan kelapa di ujung cetakan agar seolah-olah menimbulkan krim kelapa seusai dikukus nanti. Rupanya dandang telah siap dan adonan siap untuk dikukus.

Malam hari aku dan Rasyid menonton TV karena besok adalah hari Minggu. Ibu memberlakukan peraturan boleh menonton TV hanya di malam minggu saja. Selebihnya harus membuka buku. Kali ini giliran Bapak yang membantu Ibu. Sayup suara bapak-bapak dari warung sebelah tak mau kalah dari denguran jangkrik dan oret-oret.
Tak terasa aku terbangun dari mimpi oleh kumandang adzan. Ku lihat kegesitan ibu di dapur. Ibu sedang menata pesanan. Aku ke sumur aku melihat seorang wanita tua dari timur, dia menggedong dunak. Dia lekatkan caping kesayangannya di atas dunak yang berisi suatu bahan-bahan yang dijejal untuk masuk ke dunak itu.

“Ajeng kesah , Mbah. Enjing sanget”
“Iya nduk, mengko mundhak ora uman umbalan”
“O ngoten. Nggih ngati-ati”
“Yo nduk”

Kudus, 2011

Let it be sincere ((:

Untuk kisah sempurna di masa depan maka aku harus meninggalkan segala cangkang masa lalu. Bukankah sejatinya hidup kita menuju pelepasan dunia ? Jika telur anak ayam yang menetas saja meninggalkan cangkang ketika akan menjadi ayam kecil dan ayam dewasa lantas kenapa kita manusia masih memakai cangkang masa lalu ?

Let it be sincere, you gonna be more charming…

Lagi, Lagi-lagi, dan Terus

Segalanya membutuhkan adab atau etika atau tata cara. Di awal saya kira itu adalah sesuatu yang akan mengurung atau membatasi langkahku. Ternyata itu justru merapikan hidup yang masih kececeran. Ditata langsung untuk menuju kepadaNya lewat cara yang paling elegan. Jika hidup itu tanpa adab atau etika maka sudah pasti hidup kita tidak karuan. Kebayang jika pada awuk dan cemrawut. Bagaiamana hati makin teresat, bagaimana pikiran makin sempit, bagaimana ucapan makin tak bermoral, bagaimana tindakan makin unhumanis. Terimakasih Tuhan Engkau selalu menunjukkan triliunan rahmatMu.

The Best Grace, Insyaallah (:

Siapapun manusia jika Allah memberi sesuatu yang menurut kita tidak mungkin, tidak kejangkau oleh rasa dan karsa kita, tidak pernah memimpikan atau membayangkan sebelumnya dan Allah ngasihnya cuma-cuma. Itu semua seperti berjalan di tengah kabut tipis tapi tak berujung. Dingin-dingin empuk. Membuka tirai-tirai kedamaian. Menyibak cakrawala ketidaktahuan tapi selalu ada yang menuntun. Bagai fatamorgana tapi nyata. Di sini syukurnya kudu berlipat-lipat dan lebih meyakini jika setiap detik kita dalam lindunganNya 

Semoga kita semua dalam bimbinganNya dan tergolong dalam orang orang yang beruntung, membawa kebermanfaatan, lagi bersyukur 

8 Dzulhijah 1437H

Tema malam ini bertemu dengan sahabat lama. Setelah acara manaqiban di Jember langsung dilanjutkan ke KFC (ngopi float bareng serba IDR 7.000 .red) bersama teman-teman. Ada seseorang yang berkata jika kita sedang mencari jawaban maka pada frekuensi tertentu kita akan ditemukan dengan orang yang sama-sama mencari atau bahkan sudah pernah tahu jawabannya, dipertemukan khusus untuk mengajari kita. Eksplisitnya begitu kurang lebih. Setelah ngobrol ngalor ngidul jagong tentang sosial, agama, Indonesia, hingga kisah asmara berikut moral value yang semoga bermanfaat. Kadang manusia itu lupa dengan nasihat-nasihat yang sebenarnya sudah klise. Malah saat itu terkadang menjadi solusi (jawaban.red) dari apa yang kita pertanyakan. Insyaallah ini ilmunya tidak sesat. Karena sahabat lelakiku ini masih belajar dan mengkaji tentang agama dan pelajaran yang lainnya termasuk ngaji di rumahnya Yi Ulin Nuha (Putra Mbah Arwani), ahli thoriqoh di kudus. Insyaallah tidak menyesatkan. Berikut …

” Semua harus diyakini karena Allah. Karena pada setiap ilmu yang sudah kita pelajari di dunia ketika penghisaban di akhirat akan dipertanggungjawabkan. Ilmu itu bisa menarik dan menolong kita ke surga juga bisa membawa kita ke neraka. Jangan setengah-setengah jika mempelajari ilmu ! ”

Lalu pada bab tentang mengingatkan atau meluruskan orang tua bolehkah ? Ternyata boleh asal dengan sikap dan tutur kata yang bijak. Dua hal yang boleh “menentang” adalah jika kita di suruh pindah agama atau melakukan musyrik lainnya. Selanjutnya yang kedua tentang pernikahan. Jika semisal kita dijodohkan sengan seseorang A dan kita tidak menyukai orang tersebut maka kita boleh menolaknya. Sedangkan kita sudah mempunyai calon atau pilihan mantap lainnya si B. Maka kita boleh menikah dengan si B. Seketika itu saya tanya padanya. Itu di kitab mana ? Dia menjawab di fiqih.