Semesta Bersamamu

(Ini khayalan ketika kelas academic writing. Terinspirasi dari jendela ada burung yang terbang di atas kebun tebu.Bunga-bunga tebu menjelma menjadi kapas kapas kecil di atas tanah)

Hari ini telah berdiri seorang diri. Menatap dataran di atas benda dengan padang rumput hijau yang nampak begitu luas. Selir sang bayu menyepikan siang hari ini. Kalau siang hari ini aku bisa menatap tempat di seberang sana, lantas bagaimana jika waktunya berubah menjadi malam hari. Mungkinkah pemandangan yang begitu indah dan tempat yang terhampar begitu luas masih nampak jelas seperti siang hari ini. Sejenak aku tertegun lalu memejamkan mata. Kemana aku nanti? Bagaimana aku nanti? Dan Apa yang akan kulakukan nanti? Lalu mataku kembali lagi melek. Hahh “Tangkisku…”

Menyelami kemudian bernostalgi apa yang terjadi hingga hari ini. Terasa proses yang kulalui hingga detik ini masih ada yang kurang. Beberapa kesempatan pertemuan aku jarang melihatkan batang hidungku. Haha. Aku sadar aku sedang menyelam dan  tenggelam dalam memoribelia usia 20 tahun, ketika semester 5 saat ini. Mahasiswa. Itulah sandangan yang kudapat selama kurang lebih empat tahun dari 2010 Juli hingga detik ini jam 3.04PM December 12th, 2012…

Aku merasa berdosa dengan orangtuaku yang telah mengantarkanku hingga masih bisa mengejar toga. Mengejar toga ? Yakiinnn ? Hanya mengejar togaaa?. Oh terkesan pendek dan kerdil jika harus mengejar toga saja. Hmmm. Pengalaman? Apa? Pengalaman? Yakiin ? Hebat sekali kamu berkata seperti itu, Kif.

Aku tidak ingin dengan alasan kegiatan di dalam kampus maupun di luar kampus menjadi alasan kenapa virus aneh yang sekarang aku rasakan menjadi alasan utama. Aku mendapatkan ilmu-ilmu baru serta pengalaman yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Sebuah loncatan yang cukup jauh dibandingkan dengan masa SMA dulu. Perlahan, kedewasaan berfikir dan bertindak terasa di sini. Jati diri kita temukan di sini.

19 Tahunku

Tanpa aku sadari aku telah di kelilingi oleh orang yang begitu sayang, perhatian dan peduli dengan diri ini.

Tanpa aku sadari aku di kelilingi orang yang begitu penuh inspirasi. Iya, mereka adalah  yang telah terlihat cerah masa depannya. Begitu ikhlas dan tulus mengajarkan pengalaman, sesuap nasihat dan sebait ilmu untukku. Tak henti-hentinya jika diri ini haus akan ilmu baru , dengan sabar mereka mau berbagi. Sangat indah… 😉

Tanpa aku sadari mereka yang telah melukai hati ini membuatku menjadi lebih kuat.

Tanpa aku sadari mereka yang telah membenci diri ini membuatku menjadi lebih tegar.

Tanpa aku sadari aku telah berjalan sejauh ini. Menapaki keras dan lunaknya jalan hidup. Menikmati metafora perjuangan hidup. Menjelajahi simponi cinta. Terjal, penuh liku, dan penuh tantangan. Tak kenal menyerah adalah sebuah titik dari Ilahi untuk terus berjuang mengukir indah garis ridloNya.

Alhamdulillah Ya Rahman… Semakin ke depan dan semakin sempit usia ini, semakin dapat lebih dekat dan mengenalMu. Subhanaallah!

Tak perlu merancang sedetail mungkin sebuah alur untuk esok hari. Biarlah semua menjadi kado kejutan disetiap detikan hari. Biarlah menjadi cambukan mesra di setiap menitan minggu. Biarlah menjadi dentuman hebat di setiap hembusan nafas.

Ibu, papa, adik, teman, kawan, sahabat, akhi dan ukhti-ukhti ku…

Teguran, celotehan, do’a dan kasih sayang dari kalian telah mewarna dan mengalun gemulai di setiap langkah hariku.

Jazakallahu khairan 😉

Allah Yu Barik Fik !

(Repost 2011)

17 Ramadhan 1436H

indexsumber gambar: google

Banyak motivasi yang sering kita dapatkan
Banyak petuah yang sering kita dapatkan
Pada akhirnya kita akan kembali pada titik pertama
Semua harus melawan diri sendiri
Diri sendiri? Iya diri sendiri
kemenangan terbesar ialah kemenagan melawan diri sendiri
Bukankah al qur’an dan al hadis telah menerangkan itu semua?
Bersyukurlah yang menikmati dan berkesempatan sekamar setiap tahunnya bersama puasa ramadhan 🙂
Kenapa harus ada puasa wajib ramadhan

Tentang apa yang disebut itu sukses maka apa yang kamu lakukan berulang kali dan apa yang ada dipikiranmu. Artinya kamu melakukan sesuatu.
Jika itu sebuah stereotip maka gagalpun sebuah adjective. Adjective condongnya ke subjektif. Katakanlah kemutlakan terbesar pelabelan adjective itu milik Allah. Yang kita punya ialah selain adective yakni adverb atau kamplemen yang lainnya.
Jika sukses dan gagal sama-sama adejekctif lalu apa yang masih dipikirkan lagi?
Bukankah kedua-duanya sama adjectivenya. Adjective keluar jika ada noun, kalau verb (kata benda) yang keluar namanya adverb (kata kerja bantu), beda dengan adjective. Adverb keluar jika ada kata kerja yang muncul. Itu wilayah kita. Artinya kita berbuat sesuatu dengan cara (adverb)

 

Tentang sebuah pertarungan
Hidup adalah bertarung, bertanding, berperang, berkompetisi

Kita kembali kepada proses biologis manusia, kenapa si ovum dan si semen bisa kencan di tubafallopi. Si ovum menyeleksi berjuta-juta sel sperma (semen) yang masuk ke dalam vagina. Oleh mbak vagina hanya ada 1 yang berhak lolos sah menemani ovum di tuba fallopi. Dari setetes air hina menjadi daging, tulang, dan kemudian ditiuplah roh ke dalam badan si calon bayi.

Tentang bertarung kita akan bertarung dengan diri kita
Menang ataupun kalah itu hanya pelabelan
Pelabelan sebuah merek?
Jika kamu ke toko swalayan ataupun mol besar lainnya pasti tak lepas dari merek. Katakanlah kecap. Di kampung ini banyak yang mencari kecap THG. Kalau nggak itu kurang mantep, katanya. Apalgi pabrik yang membuat pernah di tayangkan di salah stasiun tv swasta dari kota ini. Patriotisme sebagai putra daerah tentu terpacu naik. Jika itu baju pasti nyari merk yang mahal yang internasional katakanlah. Sampai-sampai artis hollywood maupun nasional pakai kita harus makai. Itu merek menurut kita. Padahal Allah punya label beda dan statusnya dirahasiakan

Pelabelan, sebuah merek
Masih takut untuk sebuah pelabelan?
Setidaknya kita masih punya label sendiri yaitu adverb tadi. Adverb yang tidak takabur, bersykur, husnudzon, dan tidak berhhenti belajar

Berani bertarung?
Tentu berani !
Berani bertanding?
Tentu berani !
Berani berperang?
Tentu berani!
Berani berkompetisi?
Tentu berani!

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
sore di surau
17 Ramadhan

Sikut Menyikut Laki-laki dan Perempuan itu…..

Dewasa ini fenomena perempuan-perempuan hebat kerap muncul di berbagi media, baik cetak maupun elektronik. Hebat di sini tidak hanya public figure sang artis maupun yang sudah mempunyai nama besar. Namun hebat yang dimaksud adalah mereka yang senantiasa memberikan inspirasi lewat karya-karyanya. Perempuan – perempuan pinggiranpun bisa dan ada. Meski saya bukan ahli studi kesetaraan gender, saya sebagai perempuan Indonesia merasa bahagia terkadang juga merasa penuh tanya saat ini. Momen ketika bahagia itu pada saat melihat, berkumpul, berteman dan berbincang dengan perempuan-perempuan hebat. Rasanya nyawa lebih hidup dan hidup. Momen merasa penuh tanda Tanya itu, ketika melihat dan merasakan hal-hal yang kurang adil.

index.jpgsumber gambar: google

Misalnya, ketika berproses di kampus akses perempuan untuk belajar di dalam kelas (akademik) sudah sangat mendapatkan lampu hijau ya. Agaknya untuk masalah belajar di luar kelas semisal club ataupun organisasi (non akademik) masih agak-agak lampu kuning. Dasar sekali dulu katanya perempuan itu pol-polan jadi ibu rumah tangga walau dia adalah sarjana. Setiap kali teman laki-laki saya berkata begitu, rasa-rasanya telinga ini mekar dan mengembang pengin jawil ala binatang gajah. Jadi belajar di organisasi itu hanya sebatas obligasi kalau untuk perempuan. Batasan-batasanpun bermunculan untuk tidak terlalu larut dan dalam dalam mempelajari permasalahan intern maupun ekstern yang terjadi di organisai ataupun club. Ini tidak semua club atau organisasi namun masih ada beberapa yang seperti ini.

Tidak hanya di organisasi, dalam lingkup rumah tanggapun masih ada beberapa kasus. Misalnya in relationship wanita (istri) yang pengen maju itu dihalang-halangi oleh suaminya sendiri. Saya pikir kalau perempuan sudah terbiasa dari kecil aktif tidak masalah. Tidak mungkin naluri ibu dan kewanitaan itu hilang. Alih-alih ada anggapan wanita seenaknya sendiri dan menyaingi laki-laki, harga diri diinjak-injak, dsb. Ini sudah over rigid ya.

Terlepas dari ajaran agama, saya tidak akan membawanya ke ranah ini, karena bakal sensitif. Namun keyakinan yang saya anut adalah mengajak kedamaian untuk memayu hayuning bumi tanpa melibatkan metode sikut-menyikut. Dan itu keharusan manusia. Bukankah manusia itu perempuan dan laki-laki secara sex.

Kenapa stereotip wanita menyaingi laki-laki itu mudah melekat kepada mereka yang sedang belajar untuk mengembangkan diri? Kenapa masih ada sikut menyikut ? Bukankah saling bersinergi dan mendukung satu sama lain itu yang dibutuhkan ? Tanpa harus melumpuhkan yang satu demi yang satu bisa di posisi atas.